Selasa, 25 Februari 2014

Sweet Escape to Bromo-Malang


Kenapa saya kasih judul tulisan ini “Sweet escape?” Karena memang saya pergi ke Bromo di hari kerja, tepatnya di hari kejepit. Literally sweet escape, I guess. LOL.

Saya berangkat dari Jakarta di Sabtu siang untuk menghindari keramaian peak-season. Sekitar Minggu pagi saya tiba di stasiun Malang setelah menaiki kereta Matarmaja. Karena cuaca Malang hari itu panas, saya sengaja mengenakan baju yang lebih santai dan bebas bergerak. Sementara itu wind stopper jacket dan peralatan menanjak saya masukkan ke dalam keril. Jaket saya saja sudah memakan setengah kapasitas keril, itulah sebabnya bawaan saya terlihat banyak.
Sebelum menuju ke dusun Tumpang di mana kami menginap, saya dan kedua teman seperjalanan berkeliling kota Malang sekedar mencicipi warung bakso yang terkenal di Malang, namanya Bakso President. Kabarnya, warung bakso tersebut adalah langganan keluarga orang nomor satu di Indonesia itu. Kalau dilihat memang cukup menegangkan, karena letaknya yang pas di samping rel kereta api yang masih aktif. Tetapi rasa baksonya mantap! Walaupun sempat deg-degan setiap ada kereta lewat, tetapi perut kenyang dan hati senang.
 
Setelahnya, dengan menaiki delman, kami bermain-main sejenak di Candi Jago yang merupakan peninggalan Kerajaan Singosari. Candi ini dibangun oleh Raja Kertanegara untuk menghormati ayahnya, Raja Wisnuwardhana yang meninggal pada 1268. Bagian atas candi terlihat hancur karena menurut penduduk setempat bagian atasnya hancur karena tersambar petir.  Tapi lumayan lah, saya bisa memanjat sedikit-sedikit untuk bisa berfoto ria di puncaknya.



Kemudian setelah itu kami mengintip Air Terjun Coban Pelangi di kala hujan deras. FYI, tangga yang cukup terjal sangat licin, jadi sangat disarankan memakai sandal gunung atau alas kaki dengan sol yang bergerigi.




 Selanjutnya, kami pun berkunjung ke Perkebunan Apel Malang. Di sini ada dua jenis apel, yaitu yang manis dan masam. Karena dibebaskan untuk makan sepuasnya, saya pun memilah-milah apel mana kira-kira yang manis. Katanya, kalau apel yang masam biasa digunakan untuk masakan atau untuk diet. Saat sedang memilih, saya didatangi oleh salah satu pegawai di perkebunan tersebut dan diajari bagaimana memetik apel yang benar, karena pohon apel cukup ringkih. Salah teknik, buah apel yang ada di satu dahan bisa jatuh semua. Teknik yang benar adalah dengan diputar searah jarum jam hingga putus. Selain itu saya juga diajari bagaimana membedakan apel yang manis dan masam agar tak salah pilih. Senang rasanya bisa berkunjung ke kebun apel dan mendapat banyak pengetahuan baru.


Esoknya, pagi-pagi buta saya dan teman-teman berangkat menuju Penanjakan 2 Seruni. Karena hujan, kami pun memakai mantel sepanjang perjalanan menuju pos penanjakan. Sebagai informasi, karena cuaca di sini sangat dingin, Anda yang ingin berkunjung ke Bromo wajib hukumnya membawa jaket hangat, sarung tangan, penutup kepala, serta jas hujan. Karena beberapa teman ada yang kurang memahami medan, sehingga mereka tidak membawa peralatan lengkap dan menghambat perjalanan. Tambahan lagi, selain memakai celana panjang, saya sangat menyarankan Anda memakai stocking atau legging sebagi dalaman plus kaus kaki berlapis-lapis agar telapak kaki tetap hangat. FYI, saya yang sudah memakai dua lapis kaus kaki saja masih merasa sedikit dingin.

Tepat pada saat matahari terbit sampailah saya dan teman-teman di puncak. Tapi karena terlalu takjub dengan pemandangan yang ada, saya tak sempat mengambil gambar sunrise. Usai menikmati pemandangan di puncak, saya dan teman-teman pun menuju Kawah Bromo. Jika ingin merasakan sensasi yang lebih seru, jangan lewati tangga, tapi lewatilah jalur pasir. Asal Anda tau saja, Kawah Bromo ini adalah lokasi syuting film 5 Cm. Karena pengambilan gambar pada adegan menanjak puncak disertai batu yang berjatuhan tak mungkin dilakukan di Semeru, jadi dilakukan di sini.








Hari sudah terang, kami pun turun dan menuju ke Pasir Berbisik yang menjadi lokasi syuting film Dian Sastro berjudul serupa dengan namanya serta Bukit Teletubbies yang penampakannya memang mirip seperti bukit di acara anak Teletubbies. 



Puas berfoto-foto, kami pun kembali ke penginapan untuk bersiap mengejar kereta sore. 

Total perjalanan empat hari rasanya sangat menyenangkan, terlebih lagi dilewati bersama dua teman yang seru dan kompak. See you on the next trip, guys!

2 komentar:

  1. aduh itu baksonya, coba ya dibawa sampe rumah, biar rasa presidennya kerasa hahahaha. Nice post dear, tapi masi penasaran ama bentuk penginapan yang ada disana sbenernya :p

    BalasHapus
  2. Iyaa lupa haha. Kit a tinggal di rumah penduduk di perkampungan Desa Tumpangsari :D

    BalasHapus