Selasa, 14 Februari 2012

SATURDAY NIGHT ESCAPE WITH MY GANK

Malam itu saya dan teman-teman kos (Femi, Kak Heni, Yuki, dan Stefanny) memang berencana wisata kuliner di Jalan Sabang, Jakarta. Sewaktu sampai di sana, ternyata lokasi yang kami tuju tutup. Karena perut sudah keroncongan, akhirnya kami pun memutuskan untuk makan di restoran terdekat, yaitu Warung Desa.
 
Setelah makanan yang kami pesan datang, segera saja kami melahapnya. Tak sampai 30 menit isi piring kami masing-masing sudah ludes. Rupanya memang semua sudah kelaparan. Selesai makan, kami pun tak langsung pulang. Hey, it’s Saturday night! Jadi, kami pun memilih untuk melanjutkan ngobrol ngalor-ngidul sambil becandaan hingga tengah malam tiba. Sebagai pendatang baru di kos kami, Yuki yang juga teman dekat Stefanny cukup menyita perhatian kami, karena dia benar-benar kocak! Ada saja tingkah anehnya yang membuat kami terbahak-bahak seketika. Karena sudah cukup lama di resto tersebut, kami pun memutuskan untuk pindah tempat nongkrong tak jauh dari Jalan Sabang, yaitu McCafe Sarinah.

Karena malam Minggu, McCafe saat itu benar-benar crowded. Sampai-sampai kami tidak kebagian tempat duduk, karena rata-rata orang datang kesitu tak hanya makan, tapi juga untuk menghabiskan malam. Setelah menunggu sekitar hampir 15 menit, akhirnya kami pun berhasil mendapatkan tempat. Stefanny yang sedang ‘ngidam’ es krim pun memesan McFlurry, Yuki memesan soda, dan saya tentu saja memesan cappuccino. Obrolan pun mengalir dari kami. Mulai dari masalah kerjaan, hingga keluarga. Tak terasa, jam sudah menunjuk pukul 02.00 WIB, dan kami pun bergegas untuk pulang, karena sebagian dari kami sudah dilanda kantuk.

Menghabiskan malam di luar bersama teman kos merupakan pengalaman baru bagi saya. Biasanya, kami hanya nonton bareng di kos, atau, karena saya terbiasa hidup sendiri di kos yang lama, saya biasanya jalan-jalan sendiri. Apalagi setelah sahabat saya mulai sibuk dengan kuliahnya dan setiap weekend dia tak pernah bisa saya ajak pergi. Pengalaman malam itu memberikan banyak pelajaran berharga untuk saya, bahwa bermain bersama teman-teman baru itu bisa juga menyenangkan. Love you guys! :)

Selasa, 07 Februari 2012

Richard Rain: The Charming Hallucionist

Selesai wawancara, foto dulu. (Dok: Rangga Ibiza/ E-Motion)

Pertama kali bertemu dengan pesulap yang satu ini, kesan yang saya tangkap dia adalah orang yang kaku. Ternyata, penampilannya yang lumayan formal ini bertolak belakang dengan karakter aslinya. Host acara sulap TRIX di ANTV ini benar-benar ramah dan rendah hati. Kalau melihat ekstrimnya sulap yang dibawakannya pun Anda tak akan mengira bahwa pria ini sangat lembut.
Obrolan pun dimulai. Setelah berbincang-bincang kehidupan dan kariernya, saya menemukan sebuah perjalanan hidup yang cukup amazing. Betapa tidak? Dari kecil, si Richard Rain ini seperti sudah diarahkan untuk menjadi seorang magician. Berawal dari ketertarikannya pada permainan sulap, dan ia memulai belajar trik sulap lewat sebuah buku sulap yang dibelinya di pedagang mainan anak keliling seharga Rp 100,-. Seiring berjalannya waktu, keinginan finalis lima besar The Master season 1 ini makin besar untuk memperdalam dunia sulap. Tak tanggung-tanggung, ia juga membeli beberapa buku khusus untuk para magia (sebutan untuk pesulap profesional) hingga India. Satu hal yang menarik adalah, dari dahulu hingga kini ia belajar sulap hanya lewat buku. Selain itu, meski ditentang keras oleh keluarganya, Richard yang lulus kuliah dari jurusan Hukum UI dan terpaksa bekerja di bank, tetap kukuh untuk melanjutkan mimpinya, menjadi seorang pesulap profesional. Ia juga masih senang bermain sulap di depan teman-temannya. Masa-masa kebimbangan pun timbul pada waktu sang Ayah tercinta sakit keras. Bermaksud menghibur Ayah yang sedang terbaring di rumah sakit, Richard pun memainkan trik sulap, dan sang ayah hanya berkata, “Kamu jangan jadi pesulap.” Saat itu Richard yang berusia 24 sudah kehilangan Ibu, dan tentunya ia tidak ingin mengecewakan sang Ayah. Tak lama, Ayah tercinta pun meninggal dunia pada 2003, dan Richard memutuskan untuk berhenti bermain sulap. Setengah tahun berjalan, tiba-tiba datang tawaran untuk bermain sulap untuk sebuah acara dari sang teman. Lama tidak bermain sulap dan tiba-tiba harus tampil di depan orang banyak membuat Richard tertarik kembali untuk mengejar mimpinya yang sempat terpendam. Akhirnya Richard pun memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan kembali survive di dunia magic.
Satu hal yang paling membuat saya terperangah adalah kegiatan rutin sebulan sekali yang dijalani Richard dengan menghibur anak-anak panti asuhan yatim piatu lewat bermain sulap. Di sela-sela kesibukannya kini, ia pun masih menyempatkan diri untuk menjalani kegiatan yang sudah dijalaninya sejak 2007 tersebut, tanpa dibayar. Baginya, bermain untuk anak-anak tersebut sangat menyenangkan, karena ia yang juga seorang yatim piatu sangat ingin berbagi keceriaan dengan sesama. Ohh…. He’s really really a good guy… Impian terbesarnya, ia ingin bisa menggelar show di Las Vegas, kota impian para magician. Well,… Good luck, Richard! :)